
Tapi benarkah bung Karno sungguh-sungguh menjanjikan hal
tersebut kepada Jenderal Ahmad Yani ? Benarkah kondisi kesehatan bung Karno
kala itu memang benar-benar dalam keadaan yang sudah cukup akut ? Atau
jangan-jangan itu hanya akal-akalan bung Karno untuk menenangkan sikap Jenderal
Ahmad Yani yang kala itu masih gusar dan marah atas peristiwa Bandar Betsy yang
menewaskan seorang prajurit TNI AD yang bernama Pelda Sudjono. Kita semua tentu
telah mengetahui betapa murkanya Jenderal
Ahmad Yani atas kematian Pelda Sudjono. Hal ini dapat dilihat dari
pidatonya di markas RPKAD pada HUT RPKAD tahun 1965. Ucapan keras Jenderal
Ahmad Yani yang akan menuntut balas atas kematian prajuritnya serta meminta
pasukan RPKAD untuk siap siaga akan kemungkinan yang akan terjadi.
Untuk membahas pertanyaan-pertanyaan diatas maka penulis
ingin mengajak pembaca untuk kembali menelusuri sifat-sifat bung Karno yang
memang gemar mengumbar janji-janji tanpa pernah merasa berdosa bila mengingkari
janji-janji tersebut. (, http://dustanekarnoblogaddress.blogspot.co.id/).
Pertama-tama mari kita membahas pertanyaan, “Benarkah bung
Karno sungguh-sungguh menjanjikan hal tersebut kepada Jenderal Ahmad Yani ?”.
Ternyata, orang pertama yang curiga akan janji-janji bung Karno adalah nyonya
Yayuk Ruliah yang merupakan isteri dari Jenderal Ahmad Yani. Sangat jelas
diingat oleh anak-anaknya betapa hanya ibu mereka yang merasa tidak begitu
senang dengan berita penunjukan bapaknya yang akan menggantikan posisi bung
Karno kelak. Malah nyonya Yayuk Ruliah sempat mengatakan, "Kalau Bapakmu tidak jadi presiden, ya
nangendi (bahasa Jawa artinya :kemana) bisa dibunuh", kata nyonya Yayuk
Ruliah Yani seperti ditirukan Yuni putri dari Jenderal Ahmad Yani. Disaat
anak-anaknya merasa senang dan gembira mendegar berita ini serta beberapa
kerabat juga turut gembira akan berita tersebut, nyonya Yayuk Ruliah malah
merasa khawatir karena sebagai isteri dari seorang petinggi TNI AD tentu nyonya
Yayuk Ruliah sudah sering mendengar kelakuan bung Karno yang suka mengingkari
janjinya. Nyonya Yayuk Ruliah bukannya mempersiapkan dirinya untuk siap-siap
menjadi isteri seorang Presiden, dirinya malah tetap melakukan aktifitas
kesehariannya sembari mendoakan agar kekhawatirannya tidak terjadi.
![]() |
Amelia Yani, Putri Jenderal Ahmad Yani |
Tampaknya nyonya Yayuk
Ruliah faham betul bagaimana posisi suaminya dimata bung karno karena beliau
mengetahui bila beberapa kebijakan yang dikeluarkan Jenderal Ahmad Yani
cenderung bertentangan dengan keinginan bung Karno. Apalagi Jenderal Ahmad Yani
kerap dijuluki sebagai Perwira Pentagon. Harap diketahui bila Jenderal Ahmad
Yani pernah mengikuti pendidikan militer di West Poin, Amerika. Jenderal Ahmad
Yani juga dikenal sangat vokal menentang kebijakan untuk mempesenjatai kaum
buruh & kaum tani atau yang dikenal sebagai Angkatan ke V walaupun
diketahui bila Angkatan ke V diharapkan dapat membantu TNI dalam situasi
konfrontasi dengan Malaysia. Nyonya Yayuk Ruliah juga menyadari bila suaminya
paling vokal menentang setiap kebijakan PKI yang notabene diketahuinya sebagai
organisasi kesayangan bung Karno selain PNI tentu saja. Beberapa pertimbangan
inilah yang membuat nyonya Yayuk Ruliah bukannya merasa senang ataupun gembira
malah membuat dirinya menjadi khawatir dan terbukti kekhawatirannya benar-benar
terjadi. Jenderal Ahmad Yani menjadi korban pembantaian keji dari sepasukan
prajurit pengawal kepresidenan, Cakrabirawa.
Lalu kita membahas
pertanyaan yang kedua, “Benarkah kondisi kesehatan bung Karno kala itu
memang benar-benar dalam keadaan yang sudah cukup akut ?”. Dari beberapa
tulisan mengenai kondisi kesehatan bung Karno menjelang peristiwa G30S terbukti
bila cerita tentang kesehatan bung Karno yang sudah akut ternyata cuma cerita
bohong. Kehadiran beberapa dokter dari China dapat dipastikan hanyalah
sandiwara belaka. Seperti pengakuan Heldy Jaffar beberapa waktu lalu bila
ternyata sejak akhir tahun 1964 hingga awal tahun 1966, bung Karno kerap
mengunjungi Heldy Jaffar dan mengumbar rayuan-rayuan mautnya. Hingga akhirnya
dibulan Mei 1966 bung Karno menyunting Heldy Jaffar dan menikahinya di Istana
dengan disaksikan beberapa petnggi Negara sebagai saksinya. Tetapi justru
pernikahan inilah yang menjadi petaka bagi bung Karno. Tuntutan yang semula
hanya seputar pembubaran PKI dan pemenuhan kebutuhan hidup rakyat berubah
menjadi demo menuntut pelengseran bung Karno dan menuntut untuk dijalankannya
UUD45 secara benar.
Untuk lebih memperkuat fakta bila ternyata kesehatan bung
Karno menjelang dan sesudah peristiwa G30S memang benar-benar sehat dan bugar,
kita dapat melihat dari semangat bung Karno saat membacakan pledoi pembelaan
dirinya didepan siding MPRS. Dua pledoi pembelaan yang diberi judul Nawaksara I
dan II dibacakan bung Karno dengan penuh semangat tanpa menunjukan tanda-tanda
bila dirinya sedang dalam kondisi sakit yang akut. Bahkan kelahiran Kartika
pada tanggal 11 Maret tahun 1967 kian memperjelas bila kondisi bung Karno pada
saat itu memang benar-benar sehat dan bugar.
Wajib dibaca ; http://www.ceritamu.com/cerita/Soekarno-mengaku-miskin-tapi-pengakuan-Heldy-beda-banget-di-buku-Cinta-Terakhir-Bung-Karno
By ; Elya Agustiati.
.